“ICHIBAN NO TOKI”

Assalamu’alaikum, minna san. Semoga kalian sehat selalu dan dalam lindungan Allah.

Gambar (yang terpampang) merupakan salah satu, lebih tepatnya pertama kalinya saya coba membuat cover ilustrasi. Keliatannya mudah, tapi nyatanya tidak. Jujur saja, saya senang melihat berbagai jenis cover novel saat berkunjung ke beberapa toko buku. Terutama ilustrasi dari Penerbit Haru. Berhubung saya menyukai hal berbau jepang, ilustrasi saya cenderung (berusaha) bergayakan atau bertemakan Jepang. Tapi bukan berarti saya tidak menyukai ciri khas Indonesia, dengan aneka motif batik, alat musik tradisional dan sebagainya. Bukankah setiap orang memiliki hak untuk memilih atau menciptakan sesuatu yang disukainya (selama tidak bertentangan dengan agama dan hukum negara, terutama moral bangsa).

Dalam dunia desain grafis, kami (para desainer, apapun itu bidangnya) tidak hanya sekedar menggambar, tolong dipahami. Pertanyaan saya ialah, “siapa yang tidak suka menggambar ?” Menggambar merupakan dasar seni. Anda membuat lingkaran, persegi, kubus, dan lainnya, bukankah itu sebuah seni. Saya pernah melihat salah satu lukisan di Musium Galeri Nasional, lukisan itu sederhana, hanya terdapat persegi panjang, lingkaran, persegi, tentu dengan warna dasar. Saya tidak mengatakan bahwa karya itu tidak menarik, tetapi lebih mengarah pada apresiasi saja., misalnya mengabadikan lukisan tersebut melalui kamera ponsel.

Seni itu bersifat subjektif, tidak ada penilaian 100, 50, bahkan 0. Karena kita tidak paham apa maksud si pembuat membuat karya tersebut. Jadi jangan sembarang mengatakan kalau pekerjaan kami hanya sekedar “menggambar”. Butuh konsep yang matang. Jika kalian tidak percaya dan masih kekeh akan istilah “menggambar”, mengapa tidak mencoba membuat satu ?

Saya tidak bermaksud menyombongkan diri (naudzubillah) atau bagaimana, tapi perkataan tersebut terkesan meremehkan.

“Jika tidak benar – benar memahami, mengapa tidak mencoba mengapresiasi.”

Akhir kata, saya minta maaf bila perkataan saya menyinggung, melukai perasaan siapapun. Saya sungguh tidak bermaksud. Saya hanya mewakili perasaan teman – teman saya di dunia desain sana. Terima kasih atas waktunya.

Wassalamu’alaikum

Karya ini merupakan bentuk kolaborasi pertama saya dengan teman (lebih tua daripada saya).

Ame || Jakarta, 5 Agustus 2019

Iklan

HOME

Telapak tangan kiriku merekah, menggapai langit dibalik dedaunan rimbun yang gontai. Kedua mataku menatap rindang kapas putih yang mengambang di atas sana. Sementara angin menari bersama pucuk kelopak bunga dandelion. Batang hidungku memerah, padahal musim dingin belum tiba pada waktunya. Wangi musim gugur tercium sepersekian detik disaat kepalaku menoleh kearah tumpukan daun yang menguning.

                                 “Semua akan baik – baik saja.”

Tanganku meraih sebuah lembaran putih nan halus dari balik saku mantel tebal milik ayah. Menangkupnya kearah mulut. Samar – samar tercium bau zat besi, lantas segera hilang begitu aku memasukkan lembaran itu ke saku. Sudut bibirku perlahan mengembang. Kepalaku kembali mengadah, menatap samudera yang kini juga berpapasan denganku. Saling menatap.

                                 “Semua akan baik – baik saja.”

Telapak tanganku masih merekah, meraih langit yang begitu biru. Detak jantungku mulai berdegup tak karuan begitu aku terbatuk – batuk. Tenggorokanku perih sekali. Aku mengatur nafas perlahan, mengikuti hembusan angin yang menyapu dedaunan di pekarangan. Memejamkan mata sebentar, lantas menatap samudera yang tak pernah bosan kulihat setiap harinya. Sinar di wajahku memang mulai padam, tapi tidak dengan senyumku. Telapak tangan kiri ku kembali meraih samudera itu.

Taklama kemudian, seorang perempuan dengan jaket jingganya berlarian, menghampiriku.

“Nenek, apa yang kau lakukan ? Bukankah seharusnya kau beristirahat didalam. Cuaca saat ini sedang tidak stabil, beberapa minggu lagi musim dingin, ingat.”

Aku menepuk pelan permukaan berdaun disamping, menyuruhnya menemaniku. Ia mengangguk, kemudian membantuku duduk.

“Aku tidak apa – apa, sayang. Kalau takdir sudah berkata, aku ikhlas. Kau tahu, sayang, pada hakikatnya aku tidak pergi, melainkan pulang ke rumah. Jadi, tenang saja, ya.”

Meski telapak tanganku berlumuran cairan berwarna merah, aku tidak berniat untuk menyembunyikannya sama sekali. Ia memang khawatir dan bertanya akan kondisiku, namun jawabannya tetap sama.

“Aku akan baik – baik saja. Yakin saja kepada Allah, itu sudah cukup.”

Aku tidak menciptakan sebuah rumah, bila hanya sekedar tuk ditinggali. Aku merasakannya, dengan hati. Karena dengan begitu, sebaik – baiknya tempat tuk kembali hanyalah kepada Allah. Rumah yang sesungguhnya.  

Menit berlalu begitu cepat, meninggalkan samudera yang kini menangis menatap seorang manusia yang tengah bersandar lemah di bahu seorang perempuan. Matanya terpejam, menandakan perpisahan. Tapi senyumnya tetap mengembang, meninggalkan sejuta kenangan.

Ame || Jakarta, 26 Juli 2019

DUKA

Jemariku menatap embun senyap yang berbekas di balik bingkai jendela
Hujan diluar sana berbisik piluh
Menceritakan kisahnya dengan segenap hati
Langit terus membentangkan payung kelabunya
Menatap lamat – lamat sebuah pusara yang baru berkecambah sedetik lalu
Angin ikut berkabung
Menilik sedih dari balik helaian rambut

“Usai sudah kedatangannya.”

Semua kisahnya, berakhir, di alam ini.

Ame | Jakarta, 19 Juli 2019

FILOSOFI SEBUAH EPILOGUE

Kisahnya terpaku pada epilogue cerita yang tersemat di balik layar laptop. Lama sekali mata orang tersebut menatap sebuah kisah yang enggan diberitahu pada siapapun. Miniatur lentera yang sengaja dijejalkan dibalik jeruji jendela mengalun perlahan. Sesekali terdengar bunyi denting kecil yang menggema ke seluruh ruangan. Kisah itu terpaut pada sebuah epilogue.

            “Kemana kisah ini akan berakhir ? Akan seperti apa nantinya ?” Batinnya, dengan ujung jemari yang masih mematung diatas tombol huruf alfabet.

Kisah yang menjadi akhir cerita seseorang. Menutupnya rapat – rapat diantara sajak penuh makna. Sesuatu itu sudah lama mengakar pada dirinya. Mengambil sebagian sel saraf yang kini mulai ia lepaskan, satu per satu. Cerita yang ia rangkai sendiri, berawal dari benih yang tidak sengaja terpental, lantas mengakar di dalam dirinya. Memuakkan.

            “EPILOGUE,” ucapnya, untuk ke sekian kali.

Ekspresinya sudah tak lagi bisa dideskripsikan, kacau. Berlebihan. Ya. Sudah saatnya ia mencabut akar. Waktu telah berlalu begitu lama, sementara ia tidak mau membiarkan duri tersebut menancap bagian dirinya. Maka dari itu, keputusan sekarang ialah membiarkan akar itu terlepas.

Dua hingga tiga cangkir teh telah ia habiskan beberapa menit lalu. Pandangannya kini terpaku lurus, menatap sudut rak buku yang sedikit berdebu. Sesekali, ia menggerakan jemarinya yang mulai membeku akibat suhu tubuh yang berlawan terhadap cuaca saat itu. Helaan nafa berulang kali ia lontarkan pada atmosfer tak kasat mata.

            “Hei, hujan. Apa kalimat yang cocok untuk mengakhiri kisah ini ?” Tanya orang tersebut.

Diluar sana, angin semakin kencang, ditambah dengan gelapnya awan yang memburu langit biru secara bergerombol. Tangannya masih kebingungan dalam mencerna isi pikiran tuannya. Ia berniat untuk menghapus bagian kisahnya ini, lantas menyisipkan bagian yang menyenangkan. Bukankah, setiap pembaca, umumnya, lebih menyukai kisah yang berakhir dengan bahagia. Benar, kan.

            “Tidak, cerita ini, harus selesai. Sebagaimana mestinya.”

Awalnya hanya satu dua jemari yang bergerak kesana kemari, menekan tombol huruf pada papan laptop. Meskipun tiga puluh dua menit telah ia habiskan tuk merenung, memikirkan sebuah akhir kisah yang entah akan dibawa kemana. Pada akhirnya, ia menemukan kalimat yang sekiranya mewakili apa yang dia rasakan. Setelah selesai, ujung garis bibirnya menekuk keatas sembari menatap puas kalimat tersebut. Segera, dan pasti, ia mengambil cangkir yang sudah kosong ke dapur. Saat itu, hujan pun seolah – olah ikut tersenyum. Mengintip dari balik bingkai jendela yang tidak tertutup rapat. Menatap kalimat penghujung yang akhirnya diselesaikan dengan bijak.

            “I used to life in a rain full of fogs. But when the storms took me back to ground. That means, i have to learn how to dance between a tiny dandellion of joy or a thousand roses of mask.”

AME | Jakarta, 17 Juli 2019

Berpendar dalam DIAM

Bayangan langkahku mengekor dibalik tas biru kusam

Menepi pada sudut perempatan kota yang selalu muram

Kakiku berpijak pada segelintir aspal yang mulai berlubang

Diiringi dengan percikan air yang menggenang

Langit teduh yang mulai gelap menggiringku menuju pemberhentian lini

Tempat yang menyimpan sebuah kenangan sederhana nan abadi

Gelak tawa yang kini berubah menjadi sunyi

Menyambut keberadaanku yang tidak diketahui

Pintu berkusen tua merangkak malas

Bergerak menjauhi kayu berpualam dengan kernyit enggan

Pandanganku terhalau pada bongkahan kristal yang berwarna

Dimana dunia, seakan milikku tuk sementara

Ame | Surakarta, 5 Juli 2019

Prologue

Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah SWT, serta sholawat kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW. Terima kasih pula saya haturkan kepada keluarga, dan orang-orang yang saya sayangi dan selalu mensupport saya hingga sekarang.

Semoga konten yang akan dirilis selanjutnya, dapat bermanfaat bagi diri kita dan orang banyak. Sekian.

Horizon

Kala itu, langit malam berpendar cerah

Meski kabut tebal menghalangi

Ditemani dengan gelak tawa buliran air hujan

Tetap saja, kaki langit dihamparan sana terlihat mempesona

Sudut mataku terpaut ke seberang lensa berbingkai

Menatap gelapnya bayangan cakrawala diatas sana

Dingin yang menusuk tulang terabaikan

Berganti dengan kehangatan rona kuning lentera jalan

Mulutku tak mampu menjelaskan

Tapi sajakku ini, mampu menceritakannya

Lenganku tak mampu menggenggammu

Tapi sajakku ini, kuharap, bisa meraihmu

Horizon itu membentang luas di atmosfer

Layaknya benang biru yang terikat

Kuharap, benang itu dapat menjangkaumu suatu hari

Di Negeri Sakura sana

Hey

Suaraku terbatas

Tetapi tidak dengan doa

Ame | Surakarta, 23 November 2018.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai